DESIRE, LOVE, AND LIFE CHAPTER 4

jessica

Author : HUNHANNISSA (ANISSA SAVANA)

Main Cast : Jessica jung | Xi Luhan | Tiffany Hwang | Park Chanyeol

Support cast : find it by your self

Genre : romance, sad, family

Length : chapter

Kehidupanku sama seperti gadis-gadis lain pada umumnya. Harta, kedudukan, dan kehormatan semua telah kumiliki sejak aku terlahir di dunia ini. Namun, tiba-tiba seseorang yang tak kukenali merampas semuanya tanpa belas kasihan sedikit pun. Haruskah ku terima perlakuannya padaku? atau aku harus membalasnya seribu kali lipat?

Luhan pov

“k-kau??” ujar kami serempak.
“kenapa kau bisa ada disini?” ujarku heran
“a-ah, ,mian. Waktu itu, aku telah mengucapkan kata-kata kasar padamu” ujarnya dengan raut wajah penyesalan.
‘apa aku tidak salah dengar? Padahal waktu itu, yeoja ini memakiku karena bola yang ku lempar tak sengaja mengenainya’ batinku.
“aku sudah memaafkanmu. Aku Xi Luhan. Panggil saja aku Luhan” ujaku tersenyum
Dia yang semula menundukkan wajahnya, perlahan mulai menatapku.
“J-jessica imnida. Ehm, gomawo telah memaafkanku” ujarnya tersenyum
Mataku, entah mengapa terpaku melihat senyumannya. Ada rasa yang tak bisa ku katakan sebelumnya. Aku benar-benar baru pertama kali merasakan sesuatu yang menjalar disekujur tubuh ini. Rasanya sangat … aneh.
“a-apa kau baik-baik saja?”
“i-iya. Ehm, kalau boleh aku tahu, kenapa kau ada dirumahku?”
“a-aku, mulai sekarang bekerja disini” ujarnya lirih
“mwo????!!! Bagaimana bisa???”
“ehm, ceritanya panjang. Mian, aku harus kembali bekerja” ujarnya kemudian membungkukkan badannya ke arahku sebelum ia berlalu.

Sekujur tubuhku saat ini terasa kaku. Apa ini? Kenapa bisa seperti ini? Bukankah dia orang kaya?
Tanpa sadar, sedari tadi aku terus memandanginya yang sibuk membersihkan ruang tamu ini. Pancaran matanya, sangat berbeda dari sebelumnya. Mata yang dulu memakiku terlihat menyala dan bersinar. Namun kini, mata itu terasa sendu dan mati.

“Luhan, kau sudah pulang” ujar eomma yang membuyarkan lamunanku.

“ne” ujarku tersenyum

“eomma, bisakah kita bicara sebentar” tambahku

“tentu”

Jessica pov

Sungguh aku sangat malu bertemu dengannya. Entah apa yang ia fikirkan tentangku. Mungkin saat ini dia sedang menertawaiku. Seorang yeoja sombong yang termakan ucapannya. Aku jadi teringat ucapan namja itu. Bagaimana jika appaku tiada? Dan sekarang ucapannya telah menjadi kenyataan. Apakah benar orang telah tersakiti karena ucapanku sehingga dengan cepat Tuhan mengambulkan ucapannya? Kalau ia, bolehkah aku kembali pada waktu itu? Aku akan menarik ucapanku padanya sehingga semua ini tidak akan terjadi.

Luhan pov

“eomma, kenapa yeoja itu ada disini?”

“Jessica, maksudmu?”

“ne”

“ah, dia bekerja dan tinggal disini mulai sekarang”

“mwo??? Wae? Bukankah dia orang kaya?”

“ehm, itu dulu. Sebelum orang tuanya meninggal”

“apa?”

“ne, dia tidak punya siapa-siapa lagi sekarang Lu. Kasihan dia, perusahaan appanya bangkrut dan appanya meninggalkan hutang pada kita”

“j-jadi??”

“ya, dia bekerja disini untuk melunasi hutang keluarganya Lu”

DEG

Tubuhku membeku. Aku tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan eomma. Kenapa ucapanku menjadi kenyataan? Xi Luhan pabo!!

“Lu, kau kenapa?”

“aniyo eomma, aku hanya lelah” ujarku tersenyum kecut

“istirahatlah. Perlakukan dia dengan baik Lu. Jujur, eomma menyayanginya. Eomma ingin kau menganggapnya sebagai adikmu”

“ne, eomma. Aku akan menganggapnya sebagai adikku”
Kulihat eomma tersenyum ke arahku.

Jessica pov

Hah, akhirnya semua pekerjaanku telah selesai. Ku tatap keluarga kecil yang tengah menghabiskan waktu makan malamnya. Tanpa ku sadari, air mataku terjatuh perlahan.
‘eomma, appa, aku merindukan kalian. Aku ingin seperti mereka’ batinku.
Segera ku hapus air mataku ketika aku melihat Luhan menghampiriku.

“Jess, ayo bergabung bersama kami”

“a-aniyo”

“gwechana” ujarnya tersenyum kemudian menarik paksa tanganku. Kulihat nyonya Xi yang tersenyum kepadaku. Sedangkan tuan Xi, dia tampak tidak suka dengan kehadiranku.

“kau, untuk apa membawanya kesini?”

“appa, dia akan makan bersama kita”

“Jess, ayo duduk” ujar nyonya Xi tersenyum
Perlahan, aku mulai menundukkan tubuhku pada kursi itu. Nyonya Xi mengambilkan ku makanan yang ada di meja.

“aku telah selesai” ujar tuan Xi kemudian pergi meninggalkan kami yang diam mematung.

“mianhe” lirihku

“a-ah, kau tak perlu berkata seperti itu. Ayo makan” ujar nyonya Xi tersenyum

“ne, appa memang suka seperti itu. Dia memang sedang diet Jess. Kajja kita makan” ajak Luhan
Aku membalasnya dengan senyuman
‘mereka baik’ batinku

Sudah satu minggu aku tinggal dirumah ini. Hah, aku mulai nyaman berada dirumah ini. Aku sangat senang dengan perlakuan ajjhumma Xi dan juga Luhan. Sepertinya aku mulai menyukai Luhan. Entah kenapa, saat aku berada bersamanya aku merasakan jantungku berdetak cepat. Aku bingung, apa aku harus ke dokter untuk memeriksa kesehatanku.

My love sarangheyo
Sarangheyo, kedaeu

“yeoboseo”

“Noona!!!”

“Baekki!!!” ujarku senang

“Noona, bogoshipoyo”

“nado, Baekki-ah”

“Noona sekarang dimana?”

“a-aku, aku di Seoul”

“mwo? Noona sudah pulang dari luar negeri?”

“n-ne”

“noona, ayo kita bertemu” rengeknya

“t-tidak bisa Baekki-ah, noona sedang berada di rumah teman appa”

“mwo??? Untuk apa noona disana?”

“n-noona, mulai sekarang tinggal dirumah teman appa”

“ne? noona, kenapa tidak beritahu aku? Pokoknya, aku tidak mau tahu berikan alamat rumah teman appa noona. Aku akan kesana”

“mwo?? A-aniyo, Baekki-ah. Geurae, kita bertemu besok siang di taman”

“baiklah noona. Saranghae”

“nado saranghae Baekki-ah” ujarku terseyum

Tanpa Jessica ketahui, seseorang tengah menatap tajam kearahnya. Sedetik kemudian orang itu pergi meninggalkan kamar Jessica.

Normal pov

Jessica telah bersiap di dalam kamarnya untuk menemui Baekhyun. Senyuman tak sedetikpun lepas dari wajah manisnya mengingat ia akan bertemu dengan dongsaeng kesayangannya. Jessica akhirnya keluar dari kamarnya.
Diruang tamu, Jessica tampak mengerutkan keningnya ketika ia mendapatkan Luhan yang tengah berbaring di sofa dengan buku menutupi wajahnya.

“oppa, kau tidur?” ujar Jessica

“…”

“ah, rupanya dia sedang tidur”

Jessica mengambil buku dari wajah Luhan. Kemudian meletakkannya di meja. Ia hendak melangkahkan kakinya hingga tiba-tiba seseorang memegang tangannya.

“o-oppa? Kau tidak tidur?” ujar Jessica terkejut

“kau mau kemana?” ujar Luhan dingin

“a-aku , aku ingin menemui temanku” ujar Jessica gugup

“jinja?” ujar Luhan masih dengan nada yang terkesan dingin

“kau kenapa oppa? Apa kau sakit?”

“ne, aku sakit. Jadi, jangan pergi dan tetap menemaniku disini” ujar Luhan seraya menatap manik mata Jessica

“t-tapi, aku tidak bisa. Bagaimana dengan temanku? Dia pasti sudah menungguku”

“kau bisa membatalkannya bukan? Kau bekerja disini, jadi aku minta kau menemaniku sekarang” ujar Luhan dengan intonasi yang agak tinggi

“o-oppa” ujar Jessica terkejut

“wae? Apa ucapanku salah?”

“sebenarnya ada apa oppa? Tak biasanya kau bersikap seperti ini?”

“Jessica-ah, temani aku disini” ujar Luhan dengan lembut

“m-mian oppa. Aku tidak bisa. Aku harap kau mengerti. Nanti setelah ini, aku janji akan menemanimu. Aku pergi dulu oppa” ujar Jessica kemudian pergi meninggalkan Luhan yang tengah menahan amarahnya.

“Jessica” lirih Luhan

Baekhyun pov

“kenapa noona tidak datang juga? Jangan-jangan terjadi apa-apa dengan noona. Andwae!!” ujarku panik

“Baekki”

“noona” ujarku seraya memeluk tubuhnya erat

“kenapa lama sekali” rajukku
Dia melepaskan pelukannya “mian, tadi noona ada urusan”

“baiklah, akan ku maafkan jika noona mentraktirku ice cream”

“baiklah” ujarnya tersenyum

“bagaimana kabar noona?”

“baik. Kau Baek?”

“tentu aku baik” ujarku tersenyum

“kau tampak lebih kurus noona. Kau harus makan lebih banyak”

“ne” ujarnya tersenyum kemudian mencubit pipiku.

“appo!!” teriakku

Ia hanya tertawa “kyeopta” ujarnya
Aku pun membalasnya dengan memeluk tubuh kecilnya
“saranghae” ujarku

“nado”

Someone pov

Aku tidak pernah melihat Jessica tersenyum seperti itu jika bersamaku. Hatiku sungguh perih melihatnya dengan laki-laki itu.
“Jessica Jung” ujar orang itu dengan tangan yang mengepal

Jessica pov

Ah, senangnya bisa bertemu Baekki hari ini. Jika bertemu dengannya, entah mengapa sepertinya aku melupakan semua masalahku.
“Jessica”
Aku terkejut melihat Luhan yang tengah duduk di sofa dengan tatapan dingin yang ia arahkan kepadaku. Aku merasa, sepertinya Luhan sedang marah. Tapi kenapa? Apa karena aku tidak menamaninya?

“ada apa?” tanya ku

“pakai ini” ujarnya seraya menyodorkan sebuah kotak merah besar di hadapanku

“apa ini?”

“bukalah”

“mwo??” mataku membulat seketika setelah aku membuka kotak itu. Disana ternyata terdapat sebuah gaun berwarna pink yang sangat cantik.

“u-untuk apa ini?”

“cepat pakai, aku akan menunggumu disini”

“a-aku tidak mengerti”

“sudahlah pakai saja, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Bukankah kau telah berjanji ingin menamaniku ?” ujarnya tersenyum

“b-baiklah” ujarku gugup

Luhan pov

Setelah setengah jam aku menunggunya, akhirnya ia keluar juga.
‘yeoppo’ batinku

“kau sudah siap?”

“n-ne”

“kajja” ujarku tersenyum seraya menggandeng tangannya.
Akhirnya kami telah sampai di salah satu restaurant. Akupun melangkahkan kakiku menuju sebuah meja yang terletak dipaling depan sudut ruangan ini.

“kenapa sepi sekali?” ujarnya ketika kami telah duduk di bangku kami.

“ehm, aku sengaja menyewanya”

“mwo?? T-tapi untuk apa?” ujarnya heran

“mana jarimu?”

“u-untuk apa?”

“tenang saja, aku hanya ingin melihatnya” ujarku tersenyum
Perlahan ia mulai menggerakan tangannya ke arahku, ku raih tangannya. Sedetik kemudian, ku pasangkan sebuah cincin di jari manisnya.

“a-apa ini?” ujarnya bingung

“bagaimana menurutmu? Apa ini cantik?”

“i-ini”

Belum sempat ia melanjutkan perkataannya, bel restaurant berbunyi menandakan seseorang memasuki tempat ini. Aku menangkap siluet seorang yeoja cantik tengah tersenyum ke arahku. Aku pun membalas senyumannya.

“Luhan” sapanya

“Tiffany” ujarku tersenyum
Kamipun saling berpelukan

“bogoshipoyo, Luhan-ah”

“nado” ujarku kemudian melepaskan pelukan kami.

Ku lirik Jessica dengan sudut mataku. Ku lihat ia tengah menatap kami berdua dengan pandangan bingung sekaligus terkejut. Aku tersenyum sinis melihatnya.

“oh, siapa ini?” tanya Tiffany

“ah, dia Jessica”

“a-anyeong, Jessica i-imnida”

“anyeong, Tiffany imnida” ujarnya tersenyum

“dia pembantuku dirumah. Maaf kalau aku mengajaknya. Eomma yang meminta aku mengajaknya” ujarku tersenyum
Bisa ku lihat saat ini ia tampak membulatkan matannya.

“oh, tidak apa-apa” ujar Tiffany

“Jessica-ssi, bisakah kau pindah ke tempat lain?”

“n-ne?”

“ya, kursi itu sudah ku pesan untuk Tiffany. Carilah kursi yang lain” ujarku dingin.
Perlahan ia mulai diri dari sana. Ku lihat air mata yang menggenang di matanya.
‘ck, untuk apa dia menangis’ batinku

“gomawo, Lu” ujar Tiffany tersenyum

“cheonma” ujarku tersenyum

“ah, Jessica-ssi. Mana cincin yang ku berikan padamu tadi?”
Ia membulatkan matanya “i-ini”

“hmm, tetaplah disitu karena aku ingin kau menjadi saksi”

“saksi apa?” ujar Tiffany bingung

“Fany-ah, saranghae. Aku sangat mencintaimu. Mau kah kau menjadi yeojachinguku?”

Jessica pov

DEG

Kakiku terasa melemah. Apa lagi ini? Sepertinya, sebantar lagi aku akan pingsan.
Namja yang selama ini ku kira baik. Namja, yang telah ku sadari bahwa aku telah mencintainya. Namja yang selalu membuat hari-hariku bahagia jika bersamanya. Namja yang selalu membuatku terlihat gugup di depannya. Namja yang selalu membuat hatiku bergetar ketika melihat senyumannya. Namun dalam sekejap, namja ini telah menghancurkan hatiku

“aku mau Luhan-ah” ujar yeoja itu tersenyum

Luhan, kini ia tengah memasukkan cicin ke jari manis yeoja itu. Ku remas ujung gaunku. Dengan segenap kekuatanku, aku berusaha untuk tidak menangis disini. Aku bingung, untuk apa Luhan memberiku pakaian ini? Kenapa dia harus mengajakku kesini? Saksi katanya? Saksi apa? Tak tahukah kau bahwa aku sakit melihatmu dengannya?

“gomawo chagi. Aku berjanji akan selalu menjagamu” ujar Luha tersenyum

“ne. Saranghae chagi” ujar Tiffany.

Saat ini mereka telah berpelukan dihadapanku.
Bibirku bergetar, air mataku jatuh membasahi pipiku. Aku tak tahan lagi. Aku segera melangkahkan kakiku dari sini.

“Jess, gomawo telah menjadi saksi cinta kami” teriak Luhan
‘aarrgghhhh!!!!’
Aku terus berlari tanpa mengiraukan tatapan orang-orang kepadaku. Tak jarang hinaan yang mereka lontarkan padaku karena tak sengaja aku menabrak mereka.
‘Luhan, kenapa kau membuatku seperti ini? Apa salahku Luhan-ah? Seharusnya kau katakan sejak awal kalau aku ini hanya sebatas pembantu dimatamu. Apa kau masih memiliki dendam padaku? Kau bilang kau sudah memaafkanku? Kenapa tidak sejak awal saja kau berbuat jahat padaku agar aku tidak mencintaimu Luhan-ah? Kau tahu, aku sangat bahagia memilikimu disisiku!! Luhan-ah, kau tega sekali padaku. Aku benci keluargamu, aku benci kau, aku benci kalian semua yang telah merusak kehidupanku. Untuk apa sekarang aku hidup? Lebih baik aku mati!!’

TIN TIN

“Aaaaaaa!!!!”

BRAAKKK

‘Kau harus tetap hidup’

TBC…

annyeong!!! mianhe baru comeback. semoga kalian suka ya. thanks buat commentnya. maaf ya aku gak bisa balesin satu-satu hehe.

saranghae guys!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s